12 Januari 2009

Gadis "Palestina" Menangis di Gaza

Kebiadaban zionis-Israel di Gaza dan tidak berdayanya negara-negara Arab, dunia Islam dan masyarakat Internasional menghentikan pembantaian di Gaza menyebabkan ingatan kita melayang pada Yasser Arafat, sang “founding fathers” Palestina.



Dilahirkan di Yerussalem pada bulan November 1929, Arafat tak pelak lagi merupakan simbol perjuangan rakyat Palestina dalam membebaskan diri dari pendudukan zionis Israel. Di masa mudanya, Arafat telah berjuang melawan Israel dengan bergabung pada tentara Mesir yang berperang dengan Israel pada perang tahun 1948 dan Perang Suez tahun 1956. Kemudian, Arafat sempat mengamalkan ilmunya sebagai insinyur dengan bekerja sebagai kontraktor di Kuwait sekaligus menggalang dana bagi perjuangan rakyat Palestina. Arafat bersama kawan-kawannya kemudian mendirikan Harakat al-Tahrir al Filistini (Fatah).

Fatah yang didirikan Arafat berkembang pesat dan mendominasi Palestine Liberation Organization (PLO), sebuah organisasi induk bagi kelompok-kelompok perjuangan rakyat Palestina. Fatah dan PLO terkenal dengan aksi-aksi terornya yang mencekam zionis Israel. Aksi-aksi teror tersebut berpuncak pada bulan September 1972, ketika sejumlah militan Palestina membunuh 11 atlet Israel pada Olimpiade Munich.

Setelah berpindah-pindah “medan gerilya” dari Yordania, Lebanon dan Tunisia, Arafat secara mengejutkan menghentikan segala aksi terornya dan memilih berdamai dengan Israel di Oslo, 1993. Bersama PM Israel Yitzhak Rabin, Arafat meraih Nobel Perdamaian di tahun 1994. Karena Perjanjian Oslo-lah, Arafat kembali ke Palestina dan memimpin pemerintahan Otoritas Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Arafat kembali ke Palestina sebagai pahlawan, namun tak sedikit yang mencapnya sebagai “pengkhianat” dan “kolaborator”.

Namun, zionis Israel berulang kali melanggar kesepakatan Oslo. Pasca terbunuhnya PM Rabin dari Partai Buruh yang “moderat” oleh ekstrimis Yahudi yang tidak menginginkan perdamaian, pendulum politik Israel bergeser ke kanan dengan berkuasanya Benyamin Netanyahu dan Ariel Sharon dari Partai Likud yang radikal. Rezim Likud berulang kali memprovokasi rakyat Palestina dengan menodai kesucian Masjid Al Aqsa sehingga rakyat Palestina spontan melawan dengan “intifadah”. Pada periode inilah, Arafat dan Fatah mengalami krisis kepercayaan dari rakyat Palestina. Kompetitor Fatah, Hamas pun menjadi alternatif pilihan rakyat Palestina yang berpuncak pada kemenangan Hamas atas Fatah pada Pemilu Parlemen di bulan Januari 2006, setahun lebih pasca meninggalnya Arafat di Perancis.

Hamas bahkan sejak 2007 telah mengambil alih Jalur Gaza dari aparat pemerintahan Otoritas Palestina yang loyal pada Fatah. Politik Hamas berbeda dengan Fatah yang sudah lelah berperang dan cenderung mengedepankan diplomasi dan perundingan. Hamas belum mau berkompromi dengan zionis-Israel dan memilih terus melancarkan perlawanan atas Israel. Sikap non kompromi Hamas yang terus melancarkan roket ke Israel pun dijadikan dalih oleh Israel untuk melakukan agresi Israel ke Gaza. Makin dekatnya Pemilu Israel di awal Februari 2009 juga menjadi alasan tersirat pemerintah Israel yang didominasi aliansi kiri-tengah (Partai Buruh dan Kadima) untuk menginvasi Gaza. Koalisi Partai Buruh-Kadima berharap bisa meraih simpati mayoritas rakyat Israel yang konservatif dengan menyerang Gaza. Selama ini rakyat Israel menganggap koalisi Partai Buruh –Kadima terlalu lembek terhadap Hamas, berbeda denga Partai Likud yang ultranasionalis dan tegas terhadap Hamas.

Kini, di awal 2008, rakyat Gaza harus berjibaku meregang nyawa akibat agresi membabibuta Israel. Israel berdalih bahwa serangannya ke Gaza “hanya” untuk melumpuhkan Hamas. Namun, sudah lebih dari 500 warga Palestina gugur termasuk perempuan dan anak-anak. Walaupun Presiden Mahmoud Abbas sudah menyatakan “tidak perlu lagi berunding dengan Israel”, namun belum nampak aksi konkrit dari Fatah yang dipimpin Abbas untuk membantu Hamas di Gaza. Persatuan Hamas dan Fatah untuk berjuang bersama menghadapi agresi Israel tampaknya masih jauh dari harapan. Apalagi kita mengharapkan persatuan negara-negara Arab, antara Mesir, Yordania, Arab Saudi yang pro-Amerika Serikat di satu sisi dan Syria, Libya dan Iran yang anti AS di sisi yang lain.

Di tengah situasi chaotic di Gaza-Palestina inilah, kita teringat kembali figur Arafat –terlepas dari segala kelemahannya- yang telah mengorbankan dirinya dan bahkan kehidupan pribadinya demi rakyat Palestina. Seorang wartawan pernah bertanya kepada Arafat di usia 50-an, mengapa di usia itu, ia belum juga menikah. Jawaban Arafat sederhana namun bermakna dalam. “Saya telah menikah dengan gadis cantik bernama Palestina”. Namun, sejarah mencatat ketika akhirnya Arafat menikah di usia 60-an. Wartawan tadi kembali bertanya kepada Arafat, “Bukankah Anda (Arafat) pernah berkata bahwa Anda telah menikah dengan Palestina, namun mengapa kini Anda menikahi Suha Tawil?”. Jawaban Arafat pun mencerminkan karakternya sebagai politisi ulung. Arafat menjawab, “Istri pertama, kedua dan ketiga Saya tetap Palestina, Suha Tawil adalah istri keempat Saya”.

Kini, gadis “Palestina” tengah menangis di Gaza. Kita, bangsa Indonesia cuma bisa berada di tahap keempat dari penyelesaian konflik Palestina-Israel. Tahap pertama, Fatah, Hamas dan faksi Palestina lainnya bersedia bersatu. Tahap kedua, negara-negara Arab bersatu. Tahap ketiga, AS dan Eropa tiba-tiba “berbaik hati” pada Palestina. Tahap keempat barulah Indonesia dan negara-negara lainnya yang paling banter hanya bisa mengirim pasukan perdamaian dan bantuan kemanusiaan setelah tahap pertama hingga ketiga sudah terwujud.

membaca selanjutnya…

Perlindungan Anak??

Kasus-kasus kekerasan yang dialami anak masih saja terjadi sepanjang 2008 di Sumatera Utara (Sumut). Anak masih belum terlindungi karena hukum dan perundang-undangan yang ada masih mengambang implementasinya untuk mencegah, melindungi maupun merehabilitasi anak-anak korban kekerasan.

Demikian terungkap dalam pertemuan akhir tahun yang diselenggarakan tiga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsern dalam isu anak di Sumut, yakni KKSP (Pusat Pendidikan dan Informasi Hak Anak), Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) dan Pusaka Indonesia (PI) di Sekretariat KKSP di Medan, Jumat (26/12).




Kasus-kasus kekerasan terhadap anak memang cukup tinggi. Data PKPA menyebutkan, terhitang Januari-November 2008 tercatat 373 kasus kekerasan terhadap anak, meningkat dari tahun sebelumnya 308 terhitung Januari-November 2007. PKPA menangani 130 kasus kekerasan pada anak tahun 2008. Sementara data KKSP menyebutkan, 62 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2008. Sedangkan Pusaka mencatat 239 kasus kekerasan terhadap anak.

“Sumut masih cenderung mengabaikan masalah anak-anak yang menjadi korban kekerasan di sekolah. Anak-anak korban kekerasan di sekolah, anak-anak korban kekerasan seksual, anak-anak korban traffiking dan anak-anak yang berkonflik dengan hukum merupakan kelompok yang paling menderita lemahnya perlindungan hukum ini,” kata Direktur Eksekutif KKSP, Muhammad Jailani.

Dikatakannya, Sumut belum punya peraturan daerah yang melindungi anak-anak korban kekerasan terhadap anak di institusi pendidikan, terutama kebijakan tentang hukuman bagi anak yang bijak. Sepanjang 2008, kasus kekerasan yang ditemukan KKSP sangat mengkhawatirkan. Tercatat sedikitnya 15 kasus kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap anak di sekolah. Kekerasan yang dimaksud adalah pemukulan, penganiayaan dan sebagainya.

Hal ini merupakan ancaman bagi anak-anak hingga di masa mendatang, sebab secara kelembagaan, Sumut belum mempunyai standar akreditasi guru yang berkenaan dengan pengetahuan, keterampilan, dan metodologi psikologi perkembangan anak yang bisa menjamin amannya anak-anak terhadap tindak kekerasan di lingkungan sekolah.

Selain itu juga banyak kasus yang berhubungan tentang perlindungan anak-anak. Seperti kejahatan seksual dan traffiking anak.

membaca selanjutnya…

Sosialisme Nabi Muhammad

Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan Sosialisme seribu dua ratus tahun sebelum Karl Marx. Karena Manifes Komunis yang terbit pada tahun 1848 adalah hasil studi Karl Mark tentang perkembangan sistem masyarakat sebelumnya. Tentu juga termasuk, baik secara langsung atau tidak, Sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad tsb. Ajaran-ajaran sosialisme dari Nabi Muhammad SAW tentu berdasarkan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Quran. AL Quran cukup jelas mengutuk orang-orang yang menumpuk-numpuk harta, hendak menjadikan kaum tertindas dan miskin (mustadhafin) menjadikan pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, guna menuju ummat yang satu (tauhidi). Marilah kita cermati ayat-ayat tsb.


a. TERKUTUKLAH ORANG-ORANG YANG MENUMPUK-NUMPUK HARTA

Bahwa Islam menentang sistem kapitalisme cukup gamblang diwakili oleh Surat al Humazah ayat 1-4. Dimana dikatakan: Celakalah, azablah untuk tiap-tiap orang pengumpat dan pencela. Yang menumpuk-numpuk harta benda dan menghitung-hitungnya. Ia mengira, bahwa hartanya itu akan mengekalkannya (buat hidup di dunia). Tidak, sekali-kali tidak, sesungguhnya dia akan ditempatkan ke dalam neraka (hutamah).Menjadi pertanyaan: dari mana mereka peroleh harta yang mereka tumpuk-tumpuk tsb? Tentu tidak hanya dari hasil keringatnya sendiri, melainkan juga dari hasil keringat orang lain, dengan melalui berbagai cara yang tidak halal. Padahal surat Al Baqarah ayat 188 dengan tegas mengatakan: "Janganlah sebagian kamu memakan harta orang lain dengan yang batil (tiada hak) dan (jangan) kamu bawa kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang dengan berdosa, sedang kamu mengetahuinya".

Juga cukup jelas surat Al An'am ayat 145 mengatakan haram memakan darah yang mengalir. Haram memakan darah yang mengalir itu bukan hanya secara harfiah, misalnya melukai sebagian kulit seseorang kemudian dihirup darahnya yang mengalir di tempat yang dilukai tsb, tetapi yang lebih mendalam ialah menghisap atau memeras tenaga kerja orang lain untuk keuntungan dirinya. Seperti yang dilakukan kaum kapitalis terhadap kaum buruhnya. Kaum buruhnya tidak akan bisa diperas atau dihisapnya, sekiranya darahnya tidak-mengalir lagi dalam tubuhnya. Jadi, menghisap tenaga kerja kaum buruh, adalah sama dengan memakan darah yang mengalir dalam tubuh kaum buruh tsb.

Menurut HOS Tjokroaminoto melalui bukunya "Islam dan Sosialisme" yang ditulisnya pada bulan November 1924 di Maitarat, bahwa menghisap keringatnya orang-orang yang bekerja, memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang mestinya (dengan seharusnya) menjadi bahagian lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan --semua perbuatan yang serupa itu (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan "meerwaarde" (nilai lebih -pen) adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena itulah perbuatan "riba" belaka. Dengan begitu maka nyatalah agama Islam memerangi kapitalisme sampai pada "akarnya", membunuh kapitalisme mulai dari pada benihnya. Oleh karena pertama-tama sekali yang menjadi dasarnya kapitalisme, yaitu memakan keuntungan meerwaarde sepanjang fahamnya Karl Marx dan "memakan riba", sepanjang fahamnya Islam (hal: 17).

b. YANG TERTINDAS HENDAK DIJADIKAN PEMIMPIN

Bahwa agama Islam itu adalah agama pembebasan bagi kaum tertindas dan miskin,jelas sekali dikemukakan surat Al Qashash ayat 5 dan 6 yang berbunyi: "Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas (mustadhafin atau dhuafa) di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi. Dan kami tegakkan kedudukan mereka di bumi."Dari ayat ini jelas sekali bahwa Tuhan secara terbuka memihak kepada kaum mustadhafin dalam perjuangannya melawan kaum mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya). Tuhan tidak bersikap netral dalam pertentangan antara kaum tertindas melawan kaum penindas. Bila kaum mustadhafin sudah menjadi pemimpin di bumi, maka tentu telah tertutup jalan bagi kaum mustakbirin melakukan penindasan lagi terhadap kaum Mustadhafin dan itulah Sosialisme Islam. Menurut Asghar Ali Engineer melalui bukunya "Islam dan Pembebasan" bahwa pertarungan antara mustadhafin dan mustakbirin itu akan terus berlangsung, hingga Din Allah yang berbasis pada Tauhid menyatakan semua rakyat (tanpa perbedaan lagi antara mustadhafin dan mustakbirin, orang-orang yang menindas dan orang-orang yang tertindas, kaya dan miskin) sehingga menjadi suatu masyarakat "tanpa kelas". Dari perspektif ini jelaslah bahwa Al Quran menghadirkan suatu teologi pembebas dan dengan demikian membuat teologi yang sebelumnya mengabdi kepada kelompok penguasa yang eksploitatif menjadi teologi pembebasan. Sayangnya, Islam dalam fase-fase berikutnya, justru mendukung kemapanan itu. Tugas generasi baru Islam lah untuk merekonstruksi lagi teologi Islam revolusioner transformatif dan membebaskan itu (hal: l4). Penilaian Asghar Ali Engineer yang terakhir ini sejalan dengan penilaian Ulil Abshar Abdallah melalui bukunya "Membakar Rumah Tuhan". Menurut Ulil Abshar Abdallah bahwa persis hal ini dengan apa yang terjadi pada agama Islam: semula menjadi agama emansipatoris yang membawa aspirasi pembebasan dan perubahan, sekarang menjadi agama yang diperalat guna melegitimasi suatu tatanan (status quo) (1999, hal: 44).

c. MASYARAKAT TAUHIDI, TANPA KELAS-KELAS

Cukup jelas Tuhan melalui surat Al Mukminun ayat 52 mengatakan: "Sesungguhnya ini, ummat kamu, ummat yang satu dan Aku Tuhanmu, sebab itu takutlah kepada Ku. "Menurut Mansour Fakih dalam tulisannya "Mencari Teologi untuk Kaum Tertindas", bahwa doktrin tauhid adalah tema pokok setiap teologi dalam Islam. Tauhid dalam teologi pembaharuan, berkisar sekitar ke-Esaan Tuhan, dengan penolakan terhadap penafsiran terhadap Tuhan. Tauhid dalam perspektif "teologi kaum tertindas" lebih ditekankan kepada keesaan ummat manusia. Dengan kata lain doktrin Tauhid menolak segenap bentuk diskriminasi dalam bentuk warna kulit, kasta ataupun kelas. Konsep masyarakat Tauhidi adalah suatu konsep penciptaan masyarakat tanpa kelas (hal: 173). Dalam masyarakat Tauhidi ini, ummat benar-benar satu, tidak dibedakan lagi karena kedudukan sosial, karena jenis kelamin, karena warna kulit dsb. Dan itu adalah sama dengan masyarakat komunis. Masyarakat Tauhidi ini, adalah tingkat yang lebih tinggi dari masyarakat yang dijanjikan Tuhan: "Akan menjadikan kaum mustadhafin menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi." Untuk bisa membuminya isi surat Al Qashash ayat 5-6 sebagai langkah awal menuju masyarakat Tauhidi (ummat yang satu), maka kaum mustadhafinharus mengamalkan Surat Al Ra'du ayat 11, yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka. "Menurut petunjuk Al Quran tsb, bila kaum Mustadhafin (tertindas dan miskin) tidak mengubah keadaan diri mereka, tidak berjuang melepaskan belenggu yang dililitkan mustakbirin di leher dan di kakinya, maka mereka tetap akan tertindas dan miskin. Kaum mustadhafin tidak akan berubah keadaannya, bila mereka hanya mengharap belas kasihan kaum mustakbirin. Kaum mustakbirin tidak akan dengan sukarela melepaskan belenggu yang mereka pasungkan pada leher dan kaki mustadhafin. Perjuangan melepaskan belenggu dari tubuh kaum mustadhafin adalah perjuangan kelas dalam bahasa Karl Marx, "usaha kaum" dalam bahasa Ar Ra'du ayat 11.Malahan supaya kaum mustadhafin ini bisa bebas dari penindasan, Tuhan memperingatkan ummat Islam melalui surat An Nisa ayat 75: "Mengapa kamu tiada mau berperang di jalan Allah dan (membela) orany-orang yang lemah baik laki-laki, perempuan-perempuan, dan kanak-kanak yang semuanya berdoa: "Ya, Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya dan berilah kami perlindungan dari sisiMu, dan berilah kami penolong dari sisiMu". Dengan demikian jelas bahwa berjuang (berperang) diizinkan Al Quran untuk mengakhiri kezaliman dan untuk melindungi orang-orang yang lemah dari penindasan orang-orang kuat. Al Quran tidak mengizinkan berperang untuk memaksa seseorang memeluk agama Islam. Hal itu dengan tegas telah dikatakan Tuhan: "La ikraha fi al Din" (tidak ada paksaan dalam agama). Malah surat Al Kafirun dengan tegas mengatakan: "Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan engkau tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku".



membaca selanjutnya…

11 Januari 2009

Zionis Israel Berada di Balik Munculnya Karikatur di Denmark

Pemimpin Mejelis Syura di Denmark Syaikh Abdul Hamid al-Hamdi, dalam pernyataannya yang dimuat di harian Al-Wathan, di Kuwait, menilai ada campur tangan Yahudi terhadap munculnya karikatur yang melecehkan umat Islam di Denmark. Menurut Syaikh Hamdi, karikatur tersebut sengaja dimunculkan untuk mengalihkan perhatian kaum muslimin di seluruh dunia terhadap apa yang sedang dilakukan oleh Israel. Bersamaan dengan maraknya karikatur yang menghebohkan itu, ternyata Israel membantai kaum muslimin di Palestina. Strategi itu berhasil, terbukti pembantaian yang dilakukan Israel itu luput dari sorotan dunia.




next


Di samping itu, menurut Syaikh Hamdi, pemerintah Denmark membiarkan penyebaran karikatur tersebut karena adanya tekanan dari Israel. Tak heran, apabila kecaman keras yang dilayangkan oleh para ulama di Denmark selama ini tidak ada satu pun yang ditanggapi secara serius oleh pemerintah Denmark. Bahkan, kecaman dari berbagai negara muslim pun diabaikan.
Walaupun demikian, hingga kini para ulama di Denmark masih terus berupaya menggalang kerja sama dengan berbagai negara muslim. Mereka menyuarakan supaya negara-negara muslim melakukan tekanan politik dan memutus hubungan diplomatik hingga Denmark mau meminta maaf kepada umat Islam.
Syaikh Hamdi menambahkan, "Mengadakan konsolidasi dengan negara-negara muslim itu lebih baik. Ambillah sikap untuk melakukan tekanan politik dan memutus hubungan diplomasi dengan Denmark hingga mereka mau meminta maaf kepada kaum muslimin." (alm/fani)
membaca selanjutnya…

akU sENDIRi Ga' tAU

PERANG di Palestina!!!??
Perang antara Palestina dengan israel sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat dunia.
Yang sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti apa yang menjadi misi dari Israel sehingga menyeraNG PaLEStina dengan begitu kejamnya,tanpa ada belas kasihan sedikit pun.


katanya sih,karena palestina mempunyai bom pemusnah masal yang ilegal sehingga memicu israel untuk menyerang Palestina. berita terakhir bahwA Israel menyerang Palestina DEngan membabi buta, masjid - masjid, sekolah- sekolah, bahkan tempat pengungsian dari para korban kekejaman Israel pun dibom dan dirusak.

terus siapa sebenarnya yang menjadi dalang dari semua ini?????

Aku sendiri tidak tahu!!!!!




next
terus aPA yang harus aku lakukan untuk membantu mereka para saudara - saudara kita sesama muslim dan manusia.....
tolong para pembaca memberikanku sebuah solusi atas kegundahanku!!!
membaca selanjutnya…

manakah HATImu????




Krisis di palesina tepatnya di jalur Gaza, telah sampai pada tahap genocide (pemusnahan suatu ras tertentu) dulu kita masih ingat bagaimana hal ini dilakukan oleh rezim Adolf Hitler bersama NAZI, kini hal yang sama, bahkan lebih parah telah dilakukan oleh Israel (kenapa saya bilang lebih parah karena dulu Hitler melakukannya pada situasi perang, tapi yang dilakukan Israel sekarang hanya dengan dalih membalas serangan HAMAS, lucu sekali bukan?)




next


Lebih jauh krisis ini telah melukai nilai-nilai kemanusiaan, pembantian di jalur Gaza ini telah melukai hati setiap manusia, atau bahkan setiap makhluk yang punya hati (hanya yang tidak berhati saja yang setuju dengan tindakan Israel tsb). Lalu ketika ditanya siapa yang sebenarnya paling sakit hati dengan pembantaian di palestina ini, jawbannya mungkin ummat islam, karena hampir seluruh korban pembantaian di palestina adalah muslimin dan muslimat. Ketika ditanya lebih spesifik lagi, siapa diantara ummat islam ini yang paling sakit hati dengan pembantaian di palestina, jawaban yang paling relevan bagi saya adalah KITA!, ya KITA, UMMAT ISLAM INDONESIA. Lho kok?!
Ada banyak alasan kenapa kemudian saya berstatemen demikian.
Indonesia merupakan Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Jangan salah, penduduk muslim di Indonesia memang terbesar di dunia. Wajar jika kemudian warga muslim di sini merasa sakit hati terhadap apa yang telah terjadi di palestina. Bahkan tidak hanya dari segi personal penduduknya yang muslim saja, tapi sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia mestinya Indonesia dapat melakukan hal yang jauh lebih besar dan lebih berpengaruh dari pada sekedar mengirimkan obat-obatan. (informasi, awalnya Indonesia mengirim obat-obatan ke palestina senilai 2 milyar rupiah, dan kini bantuan tersebut bertambah menjadi 10 milyar rupiyah, Alhamdulillah. Belum lagi bantuan yang dikumpulkan sendiri oleh beberapa organisasi, mulai dari organisasi massa, LSM bahkan sampai salah satu partai politik yang dari segi jumlah saya kira cukup besar, untuk ukuran swadaya).
Secara konstitusi legar-formal, Indonesia telah menyatakan dalam pembukaan UUD 1945 bahwa Indonesia menentang segala bentuk penjajahan. Dan seharusnya Indonesia menjadi Negara pertama yang kemudian secara proaktif, kalau perlu secara inisiatif mengirimkan TNInya unutk mengusir Israel dari jalur Gaza. Itulah yang seharusnya dilakukan oleh pemeintah Indonesia jika memang masih mematuhi UUD 45. Anti penjajahan merupakan sentiment historis dari para pendiri bangsa yang notabene telah melalui perjuangan yang panjang untuk mengusir penjajah dan kemudian merdeka. Seandainya para pahlawan pendiri bangsa ini masih hidup, mungkin mereka akan menjadi orang-orang pertama yang hijrah ke palestina untuk membelanya dari penjajahan yahudi Israel.
Negara Palestina merupakan Negara kedua setelah Mesir yang mengakui kemerdekaan Negara Indonesia pasca proklamasi 17 agustus 45. Coba bayangkan, disaat seluruh dunia masih ragu-ragu untuk mengakui kemerdekaan Indonesia, Mesir dan Palestina dengan mantap telah mengakui kemerdekaan Indonesia, hal ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan persaudaraan kita (Indonesia-Palestina), jadi memang seharusnyalah Indonesia merasa sakit hati ketika melihat saudaranya di bantai di jalur Gaza sana.
membaca selanjutnya…

15 Oktober 2008

Anda Pingin Baca Lebih Lengkap Tentang Pengalamanku Selama Ramadhan Dan Idul Fitri Tahun ini.
klik saja
disini
ok
suwun



membaca selanjutnya…

peSan bwt yang merasa MANUSIA....

sombong adalah pusat segala kejahatan. untuk itulah hindari sikap sombong dan mulailah untuk lebih peka terhadap saudara - saudara kita sesama umat muslim dengan menshodaqohkan apa yang kita miliki...
ok

sukses is my right

sukses is my right
setiap orang pasti menginginkan untuk sukses